Langsung ke konten utama

Determinan Matriks

        DETERMINAN MATRIKS

        Matriks adalah susunan bilangan yang disusun dalam baris dan kolom sehingga berbentuk persegi panjang. Matriks juga dapat berbentuk persegi dengan ukuran 2×2, 2×3, 3×3, 4×4, dan masih banyak lagi. Matriks tidak jauh berbeda dengan bilangan  karena dapat dioperasikan dengan berbagai macam operasi seperti perkalian, penjumlahan, pengurangan dan transpose. Dengan menyusun matriks, perhitungan bilangan dapat dilakukan dengan lebih tersusun.

determinan adalah nilai yang dapat dihitung dari unsur suatu matriks persegi. Determinan matriks A ditulis dengan tanda det(A)det A, atau |A|. Determinan dapat dianggap sebagai faktor penskalaan transformasi yang digambarkan oleh matriks.

Apabila matriksnya berbentuk 2 × 2, rumus untuk mencari determinan adalah:

Apabila matriksnya berbentuk 3 × 3 matrix A, rumusnya adalah:


Metode eliminasi Gauss juga dapat dipakai. Sebagai contoh, determinan matriks berikut:

dapat dihitung dengan menggunakan matriks berikut:

Di sini, B diperoleh dari A dengan menambahkan −1/2× baris pertama dengan baris kedua, sehingga det(A) = det(B)C diperoleh dari B dengan menambahkan kolom pertama dengan kolom ketiga, sehingga det(C) = det(B). Sementara itu, D didapat dari C dengan menukar kolom kedua dan ketiga, sehingga det(D) = −det(C). Determinan matriks segitiga D merupakan hasil dari perkalian diagonal utamanya(−2) · 2 · 4.5 = −18. Maka dari itu, det(A) = −det(D) = +18.

Cara Mencari Determinan Matriks
        Determinan adalah nilai yang dihitung dari unsur-unsur sebuah matriks persegi. Matriks persegi sendiri adalah matriks yang memiliki banyak baris dan kolom yang sama, sehingga bentuknya terlihat seperti persegi. Cara menentukan determinan matriks akan berbeda pada tiap ordo. Nah di bawah ini kita akan membahasnya satu per satu.

Determinan Matriks Berordo 2 x 2

 Contoh matriks dengan ordo 2 x 2  :

Matriks A merupakan matriks dengan ordo 2 × 2 memiliki elemen a dan d yang terletak pada diagonal utama, sedangkan b dan c terletak pada diagonal kedua. Nilai determinan A, disimbolkan dengan [A], merupakan suatu bilangan yang diperoleh dengan cara mengurangkan hasil kali elemen-elemen pada diagonal utama dengan hasil kali elemen-elemen diagonal kedua.

Rumus yang digunakan adalah:    Det (A) = |A| = ad – bc

Contoh Soal Determinan Matriks Berordo 2 x 2

1. Tentukan determinan dari matriks berikut ini!

contoh cara mencari determinan matriks ordo 2x2

penyelesaian:

dengan rumus di atas:

Det (A) = |A| = ad – bc

|A| = (5 x 6) – (2 x 4)

|A| = 30 – 8

|A| = 22

 

Determinan Matriks Berordo 3 x 3

Matriks berordo 3×3 adalah matriks berbentuk persegi dengan banyak kolom dan baris sama yaitu tiga. Bentuk umum matriks berordo 3×3 :

contoh cara mencari determinan matriks ordo 3x3

Untuk menghitung determinan matriks berordo 3×3, bisa menggunakan aturan Sarrus. dengan gambar dibawah ini:

determinan matriks ordo 3x3

Contoh Soal Determinan Matriks Berordo 3×3

Untuk dapat memahami determinan matriks berordo 3 x 3, berikut contoh determinan matriks berordo 3x3:

1. Tentukan determinan dari matriks di bawah ini!

contoh cara mencari determinan matriks ordo 3x3

penyelesaian:

Untuk menyelesaikan soal di atas, maka kita akan menggunakan aturan Sarrus.

|A| = aei + bfg + cdh – ceg – afh – bdi

|A| = (1x5x6) + (4x2x1) + (1x2x3) – (1x5x1) – (1x2x3) – (4x2x6)

|A| = 30 + 8 + 6 – 5 – 6 – 48

|A| = -15

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

sajian data dalam bentuk histogram, poligon, pie chart, ogive dan diagram

selesaikan data dibawah ini dengan sajian dalam bentuk histogram, poligon, pie chart, ogive, dan diagram nilai f 41 - 50 3 51 – 60 11 61 – 70 21 71 – 80 33 81 – 90 15 91 – 100 3 1. Histogram Untuk membuat histogram tepi bawah dikurang dengan 0.5 dan batas atas kelas paling bawah di tambah dengan 0.5 2. Poligon Poligon merupakan garis yang melalui titik tengah dari bagian sisi atas tiap persegi panjang dari histogram   3. Ogive Untuk menentukan ogive terlebih dahulu mencari nilai frekuensi komulatif  Nilai Frekuensi FK 41-50 3 3 51-60 11 14 61-70 21 35 71-80 33 68 81-90 15 83 91-100 3 86 4. diagram    ...

PENJUALAN BARANG MENGGUNAKAN PSEUDO-CODE

PSEUDO-CODE Algoritma: Penjualan_Barang Deklarasi    Kd, Nm: String    JJ, Hrg, TH : Numeric Deskripsi    Read (Kd);    IF Kd='SBN01' Then                Nm-'Sabum LUX'                Hrg- 1500    ELSE IF Kd='RNS02' Then                Nm-'Rinso'                Hrg-11500    ELSE IF Kd='SMP03' Then                Nm-'Sunsilk'                Hrg-150           ELSE             Nm-" "           END IF Read (JJ) TH- Hrg*JJ Write(TH)

PSEUDOCODE MENCARI KETERANGAN LULUS/GAGAL DENGAN MENGGUNAKAN WHILE END WHILE

Algoritma Cek_Keterangan Deklarasi    N  : Byte    Lg, Ket : String Deskripsi    Lg- 'Y'    While Lg = 'Y'        Write ('Nilai Anda :')        Read (N)        If N>=60 Then              Ket- 'LULUS'        else              Ket- 'GAGAL'        End If        Write ('Anda : ', Ket)        Write ('Menghitung Lagi [Y/T] : ')        Read (Lg) End While